Langsung ke konten utama

Stres Berlebih, Memicu Kondisi Fisik yang Tak Kalah Perih

Pernah nggak tiba-tiba kamu merasa sakit saat sedang stres? Gejalanya pun selalu timbul secara berulang. Salah satu diantara kamu pasti pernah mengalaminya.

Iya, beberapa orang mungkin pernah merasakan kesakitan sebab asam lambung, sering pusing, mual, tekanan darah tinggi bahkan mungkin sampai gatal-gatal kayak aku hehe. Seringnya mereka yang sakit ini menormalisasi keadaan, tinggal minum obat beli dari toko terdekat lalu berasumsi 'nanti juga bakal sembuh'. Hmmm lantas apa iya solusi tersebut sudah benar-benar efektif? 

Dari pengalaman yang aku rasa ya memang benar minum obat bisa ngobatin rasa sakit. Tapi kenyataannya, nanti ya tetep bakal kambuh lagi kemudian hari. Nah, kalau kamu sedang merasakan hal yang sama, ketahuilah sakit tersebut adalah tanda awal seseorang sedang stres dan terjadi sesuatu dalam dirinya, apakah itu cemas, gelisah atau lagi banyak pikiran. Ah gapercaya, masa iyaa sih? Mari kita cek bersama-sama!

Diantara penyebab kemungkinan stres yang sering aku jumpai adalah tugas yang menumpuk, pressure dari pekerjaan, komunikasi buruk dengan keluarga, atau mungkin kurang interaksi dengan diri sendiri. Misalnya, gagal mengelola emosi sampai larut berkepanjangan. Coba screening lebih dalam lagi, silahkan zoom lebih dekat supaya terlihat lebih jelas ada masalah apa sebenarnya dibalik sakit yang tak kunjung sembuh itu.

Beberapa waktu terakhir ini aku sedang berusaha mengelola stres setelah datang ke salah seorang dokter spesialis kulit. Iya nggak typo kok, memang aku habis pergi ke Dokter Spesialis Kulit. Sebentar deh, kok malah ke dokter kulit? Bukannya konsultasi stres itu ke psikolog ya? 

Benar sih, harusnya memang gitu. Hari gini datang ke psikolog bukan lagi hal yang tabu, takut dianggap nggak waras sudah bukan lagi persoalan yang memalukan. Kamu bisa curhat-curhatin masalah supaya dapat arahan untuk mengurainya. Simpelnya, sekarang sudah banyak aplikasi interaktif  konsultasi online supaya kita-kita nggak lagi sumpek memendam masalah sendirian. Tapi, anehnya saat itu nggak ada kepikiran stres tersebut terjadi padaku, lebih tepatnya emang nggak nyadar mungkin ya hehe

Fakta di lapangan, sudah lama aku ngalamin gatal sampai timbul luka serius di areal kaki. Butuh perjalanan panjang untuk sekedar tahu dan mencari penyebab gatalnya apa. Sampai suatu saat aku pernah ngide cek darah sesaat sehari sebelum ambil jatah vaksin pertama covid cuma gara-gara khawatir ada penyakit umum tertentu khas orangtua seperti diabetes, kolesterol dan semacamnya. Kenyataannya ya normal-normal aja. Biasalah rada parnoan, keinget ada penyakit garis keturunan dari orangtua. Tapi aku nggak langsung menemukan jawaban saat itu, aku kira ya memang sedang baik-baik saja.
 
Lantas, kenapa nggak langsung periksa ke dokter kulit dari awal aja sih kalau emang kerasa gatal? Nah diposisi saat itu aku sendiri juga bingung, soalnya gatal yang aku rasa tumbuh timbul begitu. Kadang tiba-tiba muncul, kadang lama-lama hilang sendiri. Jadi ya aku pikir nanti pasti bakal sembuh sendiri. Realitas yang tidak patut untuk ditiru yaaa teman-teman✌

Pertama kali ke dokter kulit gara-gara semalaman gelisah nggak bisa tidur. Bolak-balik kebangun ngerasain sakit sampai perih cekit-cekit. Karena udah nggak tahan banget nahan sakit, aku bertekad bulat pokoknya besok harus ke dokter dan hari itu juga harus nemu solusi. Setelah dapat rekomendasi dari kenalan, berangkatlah aku pagi-pagi ke sebuah apotek. Alhamdulillah tempat yang dituju agak familiar jadi aku nggak terlalu kebingungan. Kebetulan disana tersedia tempat praktek dokter. Mulai dari spesialis mata, spesialis jantung dan tentunya spesialis kulit yang aku cari-cari. Sialnya, karena minim informasi yang ada di mbah google, jadwal praktek dokter kulit masih jam 18.00 nanti dan sedihnya lagi pasien nggak bisa ambil nomer antrian lebih dulu. Oke, aku harus sabar nahan sakit double combo, nahan kaki yang udah perihnya minta ampun sekaligus kecewa melihat jadwal praktek dokternya. Akhirnya mau nggak mau malam itu aku kembali lagi walaupun dengan ngedumel karena kedapatan nomer antrian terakhir. Mantap!

Malam itu setelah nunggu antrian panjang tibalah pukul 20.00, giliran aku diperiksa. Terlihat ada dokter yang sudah cukup senior dibalik meja serta penghalang acrylic khas pelayanan di masa pandemi. Dokter nggak langsung nanyain aku sakitnya apa. Beliau memulai dengan nanyain namaku, aktivitasku, dan sekolahku. Sewajarnya orang kenalan, akupun jawab sesuai pertanyaan beliau.  

Dokter (D) : Namanya Fike An Nabila ya?
Aku (A) : Iya dok,
D: Emang terpisah gini pake spasi?
A : Eh emm iya, ada tanda strip (-) dok seharusnya
D : Oiya berarti nggak terpisah ya. Aktivitasnya apa? 
A : Ngajar dok
D : Kuliah dimana? Jurusan apa?
A : Di UIN, jurusan pendidikan bahasa arab
D : Oh bahasa arab ya, coba tuliskan tulisan arab "tahu bulat digoreng dadakan" celotehnya sambil tertawa.

Aku paham sekali, dokter mencoba membawa suasana supaya percakapan lebih cair biar pasiennya yang super kaku tiap pergi ke dokter ini nggak terlalu tegang. Setelahnya barulah kaki ku diperiksa, ditanyain gejala, di cek pakai senter yang terpasang di permukaan dahi beliau. 

D : Wah kayak gini yaa (ekspresi agak kaget melihat keadaan kulit kakiku yang luka parah), hmm mau sembuh apa nggak?
A : Ya mau dokter
D : Beneran mau sembuh?
A : Iya dok (sambil agak tertekan)
D : Ada dimana lagi? Coba liat tangannya!
A : Nggak ada dokter beneran (sambil nunjukin telapak tangan dan sekujur lengan)
D : Sekarang coba baca surat Al-Ashr!

Waduh kaget dong kok malah ditodong baca surat ini gimana? Sambil senyum malu-malu bacalah aku surat Al-Ashr itu ayat 1-3. Selesai bacain ayat lalu aku ditodong lagi, suruh baca artinya. Setengah belibet dan agak lupa karena kaget, aku bacainlah inti artinya. Setidaknya aku bisa jawab sedikit biar nggak malu-maluin jurusan kuliahku yang sudah aku spill tadi saat perkenalan. Disitulah terjadi diskusi interdisiplin antara ilmu kedokteran dan tafsir Al-Qur'an, beliau pun menganalogikan sebab penyakitku ini apa. Sedangkan aku harus mengurai tafsir surat-surat yang beliau sebutkan. Ampun deh ujian skripsi nggak gini-gini amat.

Kurang lebih 20 menit aku menjalani rentetan pemeriksaan yang lebih kayak ujian kompre keagamaan ini barulah aku tau jenis sakit gatalnya apa. Awalnya aku mengira ini jenis gatal eksim, ternyata setelah dilihat dari gejala dan tanda luka aku terkena neurodermatitis. Dari nama saja sudah terlihat ya, memang sepertinya ada kolerasinya dengan bahasa saraf.
 
Sumber : alodokter.com
 
Sumber : halodoc.com

 
Oke, setelah pulang dari dokter dan mengikuti serangkaian pengobatannya barulah aku sampai pada titik menyadari alasan dibalik bacaan surat Al-Ashr tadi, ternyata surat yang selalu kita baca tiap pulang sekolah itu mengisyaratkan sebuah petunjuk pemulihan yang disarankan dokter selain resep obat dalam dan salep yang aku terima. Dokter berusaha menekankan lagi agar aku mengurangi rasa stres dan mengatur emosi supaya lebih sabar. 
 

Lebih dalam lagi sebenarnya aku menemukan sebuah fakta unik dari perjalanan panjang pengobatan gatal ini, menurut Dokter ada hubungan antara pelampiasan emosi dengan aktivitas tangan menggaruk (areal tubuh tertentu) yang secara tidak sadar dan tak terkontrol. Semakin kuat menggaruk semakin nikmat dan puas katanya. Ternyata emosi yang terpendam selama ini aku lampiaskan dengan goresan kuku tangan ke permukaan kulit sehingga berdampak buruk sampai menyebabkan luka pedih yang kurasa belakangan ini.
 
Sejak saat itu aku mulai introspeksi diri secara bertahap. Ternyata kebanyakan dari sebab penyakit yang menjangkit manusia itu ya karena pola hidup dan kebiasaan yang dijalaninya sehari-hari. Cuma kadang kita yang menjalaninya sering merasa unconscious. Padahal akar masalahnya ya dari sikap buruk kita yang cenderung berlebihan. Kayak misalnya nggak sabaran, suka emosi sama orang lain, sampai overthinking sama sesuatu yang belum tentu terjadi. 

Begitulah definisi penyakit hati yang lebih ke arah menyengsarakan diri sendiri. Sebenarnya obatnya nggak perlu mahal-mahal ataupun yang dosis tinggi, cukuplah kita sadar saat dikasih ujian sakit. Niatkan diri untuk terus belajar mengurangi sifat buruk lalu bertekad scale up diri dengan hal-hal baik supaya menjadi pribadi yang lebih mawas lagi.

Aku harap temen-temen bisa ambil sedikit pelajaran dari kisahku kali ini. Doa dari aku semoga kamu yang membaca terhindar dari segala penyakit hati dan disehatkan secara jasmani. Stay safe lahir dan batin guys!

Komentar

  1. pengelolaan stress penting banget yaaa ternyata, soalnya juga ngaruh ke kesehatan fisik atau jasmani

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa bener bgt, aku juga baru menyadari beberapa waktu terakhir. Sekalian observ sama orang2 disekitar. Semoga kita bisa kelola emosi dgn baik yaah :)

      Hapus
  2. Makasih udah berbagi ceritanya, jadi tau ternyata sakit di badan itu juga ada kaitannya sama kontroling emosi kita :"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih juga udah mau membaca tulisanku, semoga kita bisa kelola emosi baik2 yaah biar ndak sakit badannya :)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencoba dan merasakan

Setiap harinya semua orang pasti mengalami peristiwa baru dalam proses hidup atau yang biasa kita sebut pengalaman. Bertemu orang ditempat kerja, sekolah, pasar, lalu menghadapi karakter yang berbeda, masalah baru sampai sebuah keputusan yang sulitpun akan kita rasakan. Nah seperti halnya denganku. Aku pengen banget punya tulisan sendiri. Entah keinginan ini mulai terbersit sejak kapan, pokoknya pengen banget nulis dan punya karya semacam buku, novel, atau minimal blog gitulah. Tapi anehnya semakin kuat keinginanku untuk menulis semakin takut aku untuk mencobanya. Sampai-sampai pada sebuah mata pelajaran bahasa disetiap indikator mengarangnya pun menjadi momok besar buat aku. Keinginan menulis terus menghantuiku. Kenapa kok aku berkata seperti itu? Iya karena tiap aku menjumpai hal-hal yang baru aku terus memikirkannya. Mengolah dikepala, berkhayal dan memikirkan sebab akibatnya. "Kalo tadi aku nggak berucap kayak gini si dia nggak akan marah mungkin ya"  "Kalo tadi a...

Merawat lebih susah ketimbang Membeli

Seperti yang kita ketahui, generasi masa kini berada pada zaman yang instan/serba ada. Dalam arti lain perkembangan teknologinya sangat cepat sehingga membuat kebutuhan yang kita inginkan cepat terpenuhi. Berbagai kebutuhan tinggal di list lalu dibelanjakan di mini market. Keadaan seperti ini mulai menjamur, baik di kota-kota besar hingga ke perkampungan yang jauh dari keramaian. Cukup mengalahkan jejeran toko kelontong penyedia bahan pokok. Melihat fakta yang ada, aku jadi ngerasa kebutuhan yang kita dapetin tuh kurang greget. Kurang menikmati proses pencariannya. Beda sama orang dulu, ayah ibu kita mau apa2 nabungnya lamaa banget. Pengen beli sepatu aja ngerelain uang jajannya. Nah kalo uangnya uda kekumpul terus cukup baru deh dibeli. Mau beli buku sekolah mahal akhirnya cuman bisa foto copy, ada juga yang pinjem temen trus dicatat di buku tulis. Kayak gitu pasti seneeeng banget. Apa yg mereka dapetin diusahainnya ngoyo, susah payah. Beda sama anak jaman sekarang, mau apa2 tinggal ...